Menghadapi pengemudi yang aggresif (Aggressive Drivers) di jalan raya kadang menjadi serba salah dan membuyarkan konsentrasi kita dalam mengemudi. Karena Agresive Drivers cenderung ingin menang sendiri dan tidak mengindahkan peraturan lalu-lintas yang ada.
Untuk itu perlu memahami beberapa ciri perilaku pengemudi agresif (Aggressive Driver). Pengemudi agresif biasanya :
- Melanggar lampu merah dan tidak mengindahkan rambu stop.
- Melaju kencang, tidak menjaga jarak (menempel terlalu dekat dengan kendaraan didepannya) dan melaju di antara lajur.
- Menyalip kendaraan lain dari kiri.
- Melakukan gerakan tangan atau gesture muka yang kurang pantas (tidak sopan)
- Berteriak-teriak, membunyikan klakson berlebihan, dan mengedipkan lampu jauh secara terus-menerus.
Jika Anda menghadapi pengemudi berperilaku seperti ciri di atas, atau melihat Aggressive Drivers tersebut, ada beberapa solusi menghadapinya :
- Berusahalah menjauh dari pengemudi agresif tersebut dengan aman.
- Jangan ‘menantang’ pengemudi agrasif tersebut dengan ikut mempercepat kendaraan Anda atau mempertahankan jalur.
- Pastikan sabuk keselamatan terikat dengan sempurna. Hal ini untuk melindungi anda dari maneuver tiba-tiba yang membahayakan.
- Penting juga untuk menghindari kontak mata dengan pengendara agresif tadi.
- Acuhkan segala gerak gerik atau gesture yang memancing emosi. Jangan menimpali gesture mereka.
- Laporkan pengendara agresif tersebut kepada pihak berwenang atau penegak hokum. Jika pengemudi yang anda hadapi tersebut mengendaraai kendaraan suatu instansi (terdapat ciri kantor atau perusahaan) laporkan ke instansi terkait. Berikan gambaran kejadian, ciri kendaraan, nomor polisi kendaraan, lokasi serta arah perjalanan.
- Jika memungkinkan, laporkan langsung kejadian melalui telepon genggam ke nomor darurat (polisi). Pastikan anda berada di tempat yang aman saat menelepon (menepilah dan jangan mengemudi sambil menelepon).
Tetap waspada dan hindarkan diri Anda dari perilaku Agresif berkendara
NB : jadi malu sendiri ternyata ane juga seringkali agresiv riding…
, smoga segera sadar diri
Sumber : fb ditlantas jatim (3/4), gambar : gogling
Like this:
6 bloggers like this post.
Saya pikir semua sudah tahu bahwa ambulan mendapatkan ‘keistimewaan’ di jalanan. Dengan bekal sirine dan strobo ambulan dapat membelah dan meminta jalan bagi siapapun. Hal ini dapat dimaklumi karena memang butuh penanganan segera pasien yang ada didalamnya. Oleh karena itu mungkin kita dengan sadar akan memberikan ruang bagi ambulan tersebut untuk mendahului.
Melihat keistimewaan ambulan ini ternyata ada beberapa pengendara motor yang memanfaatkan situasi agar terhindar dari kemacetan. Kalau pengiringnya sih tidak masalah karena memang mungkin ada kepentingan. Bagaimana dengan motor lain? Ane sih tidak munafik pernah melakukan hal tersebut tetapi dengan situasi dan kondisi yang berbeda.
Kejadian hampir konyol ane dapati pagi kemarin (15/2) di perempatan Manyar-Kebun Bibit Surabaya. Jalur ini merupakan jalur harian menuju tempat kerja ane yang ada di sekitaran Nginden. Pagi itu kondisi lalu lintas sebenarnya tidak terlalu padat. Terdapat ambulan yang menyalakan sirinenya sejak dari jalan Karang Menjangan. Ketika lampu TL menyala lampu merah di perempatan manyar arah Bratang maka ambulan tetap meneruskan perjalanan melalui jalur paling kiri (jalur paling kiri memang kosong untuk rambu “belok kiri langsung”). Ternyata ada motor yang mengikuti jalannya ambulan padahal posisi awal motor berhenti dipaling depan marka.
Sontak…bel…klakson bersaut-sautan dari arah seberang ‘mendamprat’ 2 motor yang ikut-ikutan laju ambulan. Memang sih tidak sampai terjadi kecelakaan atau sruntulan namun tingkah koplak 2 motor ini menyebabkan kegaduhan sebentar dan buat orang ‘uring-uringan’. Mbok yo ojo asal ngegazz….xixixixi. (maap gak sempat ambil gambar..
).
Maturnuwun.
Like this:
4 bloggers like this post.
Categories: Safety Campaign
Tags: ambulan, buntut, gemblung, koplak, lampu merah, manyar, motor, sirine, sruntulan, strobo, surabaya
Ane gak tahu namanya ini fitur apa di pulsar tetapi sangat safety banget. Kejadian ini bermula di lampu merah kemarin (3/2) di perempatan arah Menur Surabaya ketika itu ane menetralkan gigi Milestone biar gak pegel nunggu lampu hijau. Tanpa sadar kaki ane nginjak perseneling gigi 1. Sontak ane kaget, mesin juga ‘kaget’ tapi motor gak sampai meloncat dan langsung otomatis mati. Alhamdulillah motor dan sepeda pancal didepan ane tidak jadi korban ketidaksadaran ane. Shock ::
. Ane tidak membayangkan manakala Puslar 180 UG IV ini tak terkontrol yakni meloncat, menerabas, melibas apapun didepannya waktu itu. Bisa-bisa akan memakan korban dan gak jadi berangkat kerja..hiks…hiks (lebay : mode on)
Biasanya fitur sensor ini ane ketahui ketika motor mau dipake namun kondisi gigi masuk, maka secara otomatis pulsar tidak dapat dinyalakan/distarter. Awalnya agak bingung dan panik, namun setelah gigi dinetralkan maka bisa distarter kembali seperti sediakala. Atau solusi lain bisa dengan cara di pegang persenelingnya sampil menyalakan starter. Ane rasa fitur ini sangat berguna banget untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Yang jelas fitur sensor perseneling ini sangat safety banget. Salut dah buat pabrikan Bajaj ini yang saat ini lagi ramainya brojolin Pulsar 200 NS (Naked Sport)
Ane tidak paham apakah fitur ini ada pada motor-motor batangan yang lain. Jujur kawan, soalnya ini merupakan pengalaman pertamax pakai motor laki jadi tidak tahu kondisi motor lain. Monggo kawan yang punya motor batangan atau semprot untuk share dimari pengalamannya… maturnuwun
Keep safety riding and safety gear dan Ojo nglamun di jalan..hehehe ….
Like this:
5 bloggers like this post.
Ini adalah pengamatan ane setelah sering kali berpapasan dengan moge baik yang group maupun solo di jalanan. Terutama ketika terjebak pada padatnya jalanan kota metropolitan. Ada satu hal yang mengundang pertanyaan ane adalah mengapa yah mesti selalu memainkan gas alias bleyer-bleyer. Jujur ane tidak paham sekali terkati dengan hal-hal yang berbau moge ini.
Hal ini pula yang ane temui kemarin di sekitaran terminal Bratang kemarin (14/11) ketika mau ke kantor. Ada seorang pengendara moge yang menggeber-geber gas ditengah padatnya antrian di perempatan lampu merah. Beberapa pengendara ada yang kaget terus agak minggir dan beberapa juga banyak yang cuek seolah tidak peduli. Tetapi yang ane gak habis pikir yakni pengendara harley tetap bleyer-bleyer.
Mungkin bagi kawan yang punya pengetahuan tentang motor ini bisa memberikan pencerahan. Soalnya ane dulu ketika menunggang si kebo (vespa jadul red..) juga sering bleyer-bleyer gas terutama ketika berhenti di lampu merah. Hal ini ane lakukan agar motor tidak mati (gas nya biar gak ngecil trus mati gitu lho). Tahu sendirilah kawan bagaimana susahnya kalau motor jadul itu mati atau mogok.
Apakah yang dilakukan pengendara moge tersebut sama dengan apa yang ane lakukan dengan si kebo tadi ? Wah ndak paham blas. Atau memang ada maksud-maksud lain ? Mbuh ora weruh
Like this:
10 bloggers like this post.
Menjadi biker,rider dalam sebuah klub motor memang bagai dua sisi mata uang. Di salah satu sisi pasti ada stigma arogansi dan di sisi lain ada sebuah dorongan kesadaran untuk menjunjung tinggi aturan di jalanan. Wis tinggal pilih lah… tapi yang perlu digarisbawahi disini adalah klub/komunitas motor yang sehat dan beradab dijalanan lho ya…
Ane sendiri pada awalnya ketika gabung dalam sebuah klub/komunitas motor tertanam sebuah rasa bangga dan bahkan mengarah pada sombong a.k.a arogan di jalanan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan ditunjang kesadaran berlalu lintas maka ane saat ini menjadi malu ketika mengenang ‘masa-masa’ itu. Dan dari kesadaran itu muncul rasa tanggung jawab untuk senantiasa taat aturan dan memberikan contoh yang santun di jalanan (walaupun juga kadang sering terpancing emosi untuk gas poll…). Tetapi jujur sudah ada degradasi tingkat ke 4l@y annya…wkwkwkw.
Sebagai contoh sederhana adalah ketika lampu merah menyala di traffic light maka ane berkomitmen sebisa mungkin Milestone tidak melebihi garis putih marka apalagi sampai mengenai zebra cross (tapi kadang situasi dilapangan tidak bisa diceritakan). Dengan atribut lengkap klub/komunitas maka ane enjoy saja dan menikmati rasa sebagai ‘orang yang baru belajar taat aturan’. Anehnya orang-orang dibelakang ane tidak ada yang protes apalagi sampai ngedim dan nge-bel…toet..toet…. . Wah ‘arogansi’ ane berhasil nih…xixixixi
Hal ini ane rasakan berbeda ketika memakai bebek ane dahulu. Maklum sekarang sudah jarang sekali memakai ni motor revo generasi awal itu. Dahulu ketika ane masih setengah-setengah taat aturannya maka ketika di toet…toet…dari belakang maka ane pasti melanggar marka bahkan kadang sampai bergeser ke depan zebra cross….hiks…hiks… (kadang gak tahan dengan brisiknya dan masih alay juga..hehehe)
Pesan sederhananya adalah dengan klub/komunitas motor kita dapat memberikan contoh dan teladan dalam menaati aturan lantas. Bukannya kita sok suci sebagai biker tetapi jalan raya adalah milik bersama. Dan kalau semua orang tidak peduli dijalanan terus siapa lagi yang memulai? Maap kalau lebay ya…
Like this:
6 bloggers like this post.
Komeng-ntar