
Rembulan selalu menyimpan memori yang panjang
Setia dan tegar menampung segala peristiwa
Sebagai tanda pengingat dan petanda…
Memandang rembulan mengingatkan daku bermain ditengah cahaya purnama
Memandang rembulan mengingatkan daku digendong bapak pulang pengajian malam jum’at
Memandang rembulan pula mengingatkan daku pulang bergerombol sehabis nonton bioskop ditengah lapangan
Memandang rembulan mengingatkan daku saat ‘main air’ di malam hari pinggir bengawan solo
Memandang rembulan mengingatkan daku termenung diatas atap sekolahan untuk mengejar impian
Memandang rembulan mengingatkan daku tingkah unik tetangga saat gerhana menempa
Memandang rembulan mengingatkan daku berjalan pulang menembus malam karena kehabisan uang
Memandang rembulan mengingatkan daku saat-saat belajar sholat malam
Memandang rembulan mengingatkan daku kesepian dan kerinduan ketika belajar jauh dari orang tua.
Memandang rembulan membuat daku takjub bersyukur pada Yang Maha Kuasa atas segala kreasi alamnya…
Rembulan memang menyimpan segala makna dan cita-cita…
Bagaimanan dengan kawan semua?
Monggo di bagi dimari
Like this:
One blogger likes this post.
Seorang bocah mungil sedang asyik bermain tanah, sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah. Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.
Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu! Biar kamu jadi imam di Haramain!”
Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di Masjidil Haram…!! Tahukah Anda, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu…?? Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia. ****
Ini adalah teladan bagi para ibu, calon ibu, ataupun orangtua. Hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orangtua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.
“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian…” (HR. Abu Dawud)
#Inspirasi : Khabar Biladi al-Jazaair/ ar-risalah ed.131 (repost dari fb kawan)
Like this:
4 bloggers like this post.
- SWAMI SIVANANDA SARASWATI
“Tempatkan hati, pikiran, dan jiwa bahkan ke dalam tindakan terkecil Anda. Itulah rahasia keberhasilan. SWAMI SIVANANDA SARASWATI (1887–1963) Filsuf India”
“Semua orang berpikir mengubah dunia, tetapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri. LEO TOLSTOY (1828–1910) Novelis Rusia”
“Lupakanlah kepedihan, tapi jangan pernah lupakan kebaikan. CONFUCIUS (551–479 SM),guru dan filsuf asal China”
“Sebagai manusia, kita diberkahi kebebasan memilih dan kita tidak dapat menghindari tanggung jawab terhadap Tuhan atau alam. Kita harus memikul sendiri. Itu adalah tanggung jawab kita. ARNOLD TOYNBEE (1889–1975), pakar sejarah dan ekonomi Inggris”
“Tidak ada kebahagiaan dalam memiliki atau mendapatkan sesuatu, kebahagiaan hanya ada saat memberikan sesuatu bagi yang membutuhkan. HENRY DRUMMOND (1851–1897), penyair asal Kanada”
“Imajinasi selalu memiliki kekuatan membangkitkan kembali ketika ilmu pengetahuan tak mampu melakukannya. INGRID BENGIS (1915–1982), penulis AS kelahiran Rusia”
“Kemiskinan paling mengenaskan adalah kesendirian dan perasaan tidak dicintai. BUNDA TERESA (1910–1997), tokoh kemanusiaan India kelahiran Albania”
“Jika Anda tidak berjuang untuk sesuatu hal, Anda akan jatuh dalam segala hal. MALCOLM X (1925-1965), pejuang antidiskriminasi Amerika Serikat.”
“Manusia terlihat konyol ketika mereka mencoba menampilkan diri bukan sebagai dirinya. Giacomo Leopardi (1798–1837), penyair dan filsuf Italia.”
“Diam lebih baik daripada kata-kata tanpa makna. PYTHAGORAS (580-500 SM), filsuf dan matematikawan Yunania
“
“Dalam politik, kedunguan itu bukanlah halangan. NAPOLEON BONAPARTE (1769–1821), politikus dan Kaisar Prancis”
“Kata-kata tanpa tindakan adalah pembunuh idealisme. HERBERT HOOVER (1874–1964) Politikus AS dan Insinyur Pertambangan”
“Generasi yang mengingkari sejarah adalah generasi yang tidak memiliki masa lalu dan masa depan. ROBERT HEINLEIN (1907–1988), penulis asal Amerika Serikat”
“Sanjungan adalah cara paling buruk dan paling palsu untuk menunjukkan sebuah penghargaan. JONATHAN SWIFT (1667–1745), penulis dan pujangga asal Irlandia”
sumber : wisdom/okezone.com
Like this:
2 bloggers like this post.
Ilmu kanthong bolong
“Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kantong. Yen ana isi lumunture marang sesami”
“Menolong sesama, tidak perlu memakai pikiran, waktu, perut, saku. Jika (saku) berisi mengalir kepada sesama”
Secara sekilas maknanya bahwa menolong sesama itu tidak perlu memikirkan /memperhitungkan waktu, perut dan saku. Dan bahwa dalam kondisi dan situasi bagaimanapun, yang namanya kanthong (saku) harus tetap kosong dan apabila kanthong itu sampai terisi, maka harus dialirkan lagi kepada sesama. Dan ilmu ini muaranya hanya satu yakni ILMU IKHLAS.
Sugih tanpa bandha
“Sugih tanpa bandha.
Digdaya tanpa hadji.
Ngalurug tanpa bala.
Menang tanpa ngasoraken”
“Kaya tanpa harta.
Sakti tanpa azimat.
Menyerang tanpa balatentara
Menang tanpa merendahkan”
- Sugih tanpa bandha. Harta bukanlah segala-galanya. Kebahagiaan, kedamaian, dan keindahan hidup ada dalam kesucian hati, hati yang tidak diselimuti rasa iri. Hati yang kaya budi pekerti. Hati yang jauh dari keinginan birahi. Meski engkau tidak berharta, engkau tak punya apa-apa, tapi engkau berhati, itulah kekayaan yang hakiki. Apalah arti banyak harta, jika hati selalu nelangsa. Apalah arti hidup bergelimang harta, kalau hati sering didera derita. Lebih baik hidup apa adanya, asal hati ini tetap kaya. Kaya hati adalah jalan menuju bahagia, adalah obat penenang segala rasa.
- Digdaya tanpa hadji. Serahkanlah urusanmu kepada Allah, Tuhan Yang Maha Melihat, Yang Maha Tahu. Hanya Dia yang dapat menyelamatkanmu; bukan ajian atau azimat yang penuh tipu muslihat. Tekad, pasrah dan doa; mendatangkan keadilan Tuhan; iman dan tawakal mendatangkan kesaktian; karena hanya Tuhan Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa nan Digdaya. Renungkanlah, digdaya tanpa aji : suro diro jayaningrat lebur dening pangestuti; madep mantep marang Gusti.
- Ngalurug tanpa bala. Marilah saudaraku, marilah! Singsingkan lengan baju dan niatkan. Alirkan semangat pribadi. Reguklah cawan suka duka dunia ini. Dengan karya pribadi, dengan petunjuk Ilahi. Tanpa tentara, tanpa sengketa. Hindarilah peperangan, permusuhan, pertarungan atau kekerasan. Cukup dengan tekad asih, insyaAllah semuanya bisa diselesaikan, semua akan teratasi. Tundukkan musuh kita, raihlah cita-cita. Dan damaikanlah jiwa kita
- Menang tanpa ngasoraken. Sebuah ungkapan yang mengandung kekuatan agar jiwa tidak sembrono, diri tidak sombong, tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu ungkapan tersebut juga mengajarkan supaya kemenangan itu diraih dengan jalan damai, tidak dengan jalan kekerasan, dan tanpa membuat lawan malu atau terhina. Sementara piala kemenangan itu diwujudkan dengan pengabdian kepada sesama, dengan cinta kasih, dan dengan rasa syukur kepada Ilahi dengan mendalam.
Sumber : Ajaran Drs. R.M.P. Sosrokartono (kakak dari R.A. Kartini) yang dirangkum dalam buku Sugih tanpa Bandha vs Ilmu kanthong bolong oleh M. A. Syuropati (IN AzNa Book, 2011 : Yogyakarta)
Like this:
5 bloggers like this post.

Membuka kenangan lama yang terhampar di belakang memberikan makna baru dalam hidup. Memberikan apresiasi baru terhadap keberhasilan ataupun kegagalan saat ini. Kita selalu bisa kembali ke masa lalu. Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di ruang yang tepat di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat disana. Biarlah kita kunjungi suatu saati. (Iwan setiawan, Novel “9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel ke The Big Apple”)
Like this:
Be the first to like this post.
Komeng-ntar